75 Tahun Perjanjian Bretton Woods: Perubahan Besar dalam Ekonomi Global

Tahun 2019 ini, dunia akan memperingati 75 tahun Perjanjian Bretton Woos (Bretton Woods Agreement). Perjanjian Bretton Woods tahun 1944 mengubah sistem tata uang dunia yang semula berbasis standar emas menjadi standar dollar AS, dan barulah dolar AS dipatok terhadap emas. Perjanjian ini sangat penting untuk dicatat dalam sejarah, karena melalui perjanjian inilah sistem perekonomian global berubah menjadi seperti sekarang ini.

Perjanjian Bretton Woods dibuat pada bulan Juli 1944 , setahun sebelum PBB didirikan (Oktober 1945), jadi boleh dibilang bahwa kesepakatan dalam perjanjian ini ‘lebih kuat’ dari PBB itu sendiri.

Sebagian orang bahkan mengait-kaitkan perjanjian ini dengan Skenario Konspirasi Global, New World Order dan semacamnya. Hal ini mungkin tidak salah, sebab memang perjanjian yang hanya dihadiri oleh 730 orang dari 44 negara (Indonesia bahkan belum ada pada saat itu)–ini akhirnya mengubah peta ekonomi dunia secara keseluruhan.

Efek 2 Peristiwa Besar
Perjanjian Bretton Woods muncul akibat dari 2 peristiwa besar yang melanda dunia saat itu: Perang Dunia (yang berlangsung 2 kali) dan Depresi Besar. Dan kedua peristiwa itu mengakibatkan malapetaka dalam ekonomi global dikarenakan cadangan emas di bank-bank seluruh dunia menipis.

Setelah perang dunia pertama, untuk menambah cadangan emas maka pemerintahan AS dan Inggris menggenjot perekonomian habis-habisan, yang mengakibatkan pasar modal menjadi sangat bergairah akibat orang ramai-ramai berspekulasi di saham. Tapi ini semua berakibat fatal. Produksi ditingkatkan tetapi pasar tidak ada. Siapa yang mau beli ?

Karena itu kemudian munculah peristiwa Depresi Besar (The Great Depression). Di mana harga-harga saham di AS rontok bersamaan pada hari Kamis 24 Oktober 2029, kemudian orang menyebut hari itu sebagai “The Black Thrusday” (Kamis Kelam). Itu adalah awal mula krisis ekonomi terparah dalam sejarah, efeknya kemana-mana, ke seluruh dunia dan berlangsung hingga 10 tahun.

Tidak ada krisis ekonomi yang berakibat lebih parah secara sosial-politik dibandingkan dengan The Great Depression, industri gulung tikar, bank-bank tutup, jutaan warga menjadi pengangguran, kemiskinan merajalela. Pemandangan orang-orang mengantri ransum makanan jamak terlihat, silahkan googling sendiri kata: “The Great Depression”, foto yang muncul adalah nestapa dan penderitaan.

Tahun 1933, Rosevelt menjadi Presiden. Para era presiden Rosevelt, dia merancang sebuah program baru untuk memberi bantuan likuiditas ke masyarakat yang bernama “The New Deal”, intinya adalah pemerintah memberikan bantuan likuiditas dan proyek ‘padat karya’ ke rakyat. Itu artinya pemerintah harus mencetak uang lagi. Pertanyaannya: Karena saat itu pencetakkan uang masih berdasarkan standar emas, sedangkan emas dalam cadangan devisa negara sudah habis , maka kemana lagi harus mencari?

Betul sekali, negara mengambilnya dari rakyat. Rakyat AS dipaksa untuk menjual emasnya ke negara. Emas diganti dengan dollar. Dengan cara ini Amerika kemudian menambah cadangan emasnya.

Ketika perang dunia pecah tahun 1939, AS belum ikut perang sampai 1941 ketika Jepang menyerang Pearl Harbour karena tidak tahan menghadapi embargo minyak AS. Maka begitu AS terjun ke perang, industri segera digerakkan besar-besaran, kapasitas produksi segera maksimal, pengangguran menurun drastis karena para pekerja sibuk membuat, yaah…senjata.

Jadi bolehlah dibilang: perang itu bagus untuk perekonomian (selama tidak terjadi di negara sendiri tentu saja).

Bulan Juli 1944, konferensi Bretton Woods diselenggarakan. Belajar dari Perang Dunia pertama, negara-negara maju seolah ‘belajar’ untuk mengatasi masalah bagaimana jika cadangan emas menipis karena perang. Dunia sepertinya ‘kapok’ dengan standar emas. Mereka ‘\mulai berpikir’\ untuk mencari cara lain mencetak uang.

Karena itu dikeluarkanlah kesepakatan Bretton Woods yang isinya antara lain:

  1. Meninggalkan standar emas seluruh mata uang di dunia
  2. Negara-negara seluruh dunia sepakat untuk mematok mata uang mereka dengan dollar AS, bukan lagi standar emas, dan
  3. Barulah kemudian dolar AS dipatok terhadap emas.
  4. Membentuk IMF dan Bank Dunia.

Kesepakatan ini pada awalnya diprotes, terutama oleh Perancis, tetapi akhirnya menerima dikarenakan tekanan kondisi perang dunia. Jika Perancis tidak menerima, maka Amerika tidak akan membantunya mengusir Jerman yang saat itu menduduki Perancis.

Dengan demikian maka standar emas telah digantikan menjadi “standar dollar” , walaupun memang dollar tetap dipatok terhadap emas. Semenjak saat itu negara-negara diseluruh dunia diharuskan menimbun cadangan devisa mereka bukan dengan emas murni, tapi dengan dollar.

Tapi yang terjadi kemudian, dollar AS terus menerus mengalami inflasi terhadap emas. Trend menunjukkan bahwa nilai dollar AS mengalami penurunan terhadap penyangganya: emas dan hal ini mengurangi kepercayaan negara-negara yang mematok kurs mereka terhadap dolar AS.

Tahun 1969, Perancis akhirnya mengabaikan Kesepakatan Bretton Woods, mereka nekat mengkonversi cadangan devisa mereka dari dollar ke emas murni.

Pada tahun 1971, keadaan makin parah saat nilai dolar AS turun menjadi $64 per troy once. Presiden Richard Nixon akhirnya melepaskan kurs dollar AS terhadap emas, dollar tidak lagi dipatok terhadap emas tetapi oleh sistem mengambang (floating). Artinya, yang mem-back up dolar kini hanyalah ‘kepercayaan publik’ saja, semakin banyak yang memakai dollar nilai dollar akan semakin kuat dan sebaliknya, artinya nilai dollar AS dan mata uang lain di seluruh dunia kini berfluktuasi, dan ini menyebabkan terjadinya spekulasi mata uang yang dilakukan oleh pialang dan pedagang mata uang alias forex trader.

Karena berfluktuasi, maka dalam keseharian faktor neraca perdagangan, inflasi, pengangguran, kemajuan ekonomi, turut menentukan fluktuasi naik turunnya mata uang terhadap yang lain, bahkan yang paling parah, aksi spekulasi juga bisa mengguncang kestabilan nilai mata uang, seperti yang terjadi pada Krisis Moneter 1998.

Sistem mengambang dan pencetakan uang TANPA JAMINAN ini dikenal dengan nama Fiat Currency, yang dimana mata uang tidak di-backed up oleh komoditi fisik apapun, tetapi hanya oleh ‘kepercayaan orang’ saja. Nilai mata uang berlaku karena orang mempercayainya dan mau menggunakan uang itu dalam kehidupan sehari-hari, itu saja.

Setengah Kehancuran Bretton Woods.
Semenjak era Nixon maka praktis Bretton Woods Agreement setengah hancur. Mengapa disebut ‘setengah kehancuran’ ? Sebab memang tidak semua point kesepakatan Bretton Woods hancur saat 1971, sebagian justru masih berlaku hingga hari ini:

  1. Dollar AS tetap menjadi mata uang patokan dunia, perdagangan internasional masih menggunakan dolar AS sebagai instrument alat tukarnya. Bukan karena dollar AS memiliki kepastian dipatok ke emas, tetapi karena kuatnya hegemoni politik dan ekonomi AS, walaupun pada saat ini sudah mulai ada pesaing dari Euro dan China.
  2. Banyak negara-negara seluruh dunia yang tetap menimbun cadangan devisanya dengan dollar AS bukan emas (pengecualianya adalah Iran, Kuba, dan Korea Utara), dan..
  3. Hei! IMF dan Bank Dunia masih ada sampai sekarang, bukan ?

Boleh jadi para petinggi Bretton Woods memang ‘sudah memperkirakan’ bahwa kesepakatan itu akan hancur, mungkin memang benar Teori Konspirasi yang menyebutkan bahwa perjanjian ini hanyalah ‘sebuah jalan’ bagi AS untuk menguasai perekonomian global melalui sistem Fiat Currency.

Seluruh dunia kini tergantung pada dolar AS yang notabene tergantung pada negara AS itu sendiri. Secara teori, jika andaikata besok Amerika Serikat bubar, dolar AS tidak berlaku, maka sistem perekonomian dunia akan kolaps.

Penting untuk dicatat bahwa seluruh dunia saat ini menggunakan sistem Fiat Currency. Mata uang tidak di back-up oleh komoditas fisik tertentu tetapi oleh ‘kepercayaan’, secara jangka panjang ini mengakibatkan inflasi terhadap emas murni, sebab emas tidak bisa ditentukan oleh kepercayaan melainkan oleh supply secara fisik.

Pada tahun 1944 saat Bretton Woods ditandatangani, harga emas 1 troy once adalah 33,85 dolar AS, tetapi pada hari ini, 12 Desember 2019, harganya 1475,70 dolar AS, artinya dalam 75 tahun , dolar AS (dan juga seluruh dunia) telah mengalami inflasi sebesar 4257 %

Dengan adanya sistem Fiat Currency, maka wajar jika siklus ekonomi global seluruh dunia akan selalu mengalami Boom and Bust, gelembung dan pecah, krisis ekonomi akan terjadi silih berganti, dalam selang 20 -30 tahun.

Kini 75 tahun sudah berlalu Kesepatakan Bretton Woods, 75 tahun sudah dunia meninggalkan standar emas. Semenjak Rosevelt memerintahkan rakyat Amerika untuk menyerahkan emasnya, menukarnya dengan uang kertas, dan memberlakukan hukuman penjara bagi yang siapa pun memiliki emas dalam bentuk LM ataupun perhiasan lebih dari 10 gram–maka hal itu berarti rakyat di seluruh dunia mulai ‘dilarang’ untuk menggunakan emas sebagai media transaksi.

Emas di seluruh dunia ‘menghilang’ dari peredaran, sementara uang fiat menyebar di mana-mana. Logika keseimbangan mengatakan, jika salah satu sisi berkurang, maka sisi sebaliknya akan bertambah. Jadi emas di seluruh dunia sebenarnya tidak hilang, dia hanya berpindah tempat, emas-emas dikumpulkan dari brangkas orang-orang di seluruh dunia, disimpan, duduk manis, dan tidak boleh beredar, sedangkan yang boleh beredar hanyalah uang fiat.

Pertanyaannya sekarang: SIAPA yang menyimpan emas-emas itu?




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*